Kamis, 28 April 2022

Laporan Bacaan Strategi Pembelajaran

 

Roza Wulandari

12001089

4F PAI

 

LAPORAN BACAAN

 

Strategi Pembelajaran

Penetapan strategi yang relevan merupakan suatu keharusan. Strategi pembelajaran yang tepat akan membina peserta didik (mahasiswa) situasi yang terjadi dan yang mungkin terjadi. Karena penetapan strategi yang tidak tepat akan berakibat fatal. Sebab akan terjadi kontraproduktif dan berlawanan dengan apa yang ingin dicapai, misalnya seorang dosen mengajar agar mahasiswa menjadi kreatif, akan tetapi mengajar dengan cara-cara otoriter dan kaku. Strategi Pembelajaran merupakan garis besar haluan bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dalam arti ilmu dan kiat didalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan/atau yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi Pembelajaran adalah metode dalam arti luas yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengayaan, dan remedial yaitu memilih dan menentukan perubahan perilaku, pendekatan prosedur, metode, teknik, dan norma-norma atau batas-batas keberhasilan.

Secara umum strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas. Dalam konteks pembelajaran, strategi berkaitan dengan pendekatan dalam penyampaian materi pada lingkungan pembelajaran. 

Secara umum strategi pembelajaran dibagi menjadi tiga:

1). Strategi Indukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang memulai dari hal-hal yang khusus barulah menuju hal yang umum.

2). Strategi Dedukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang umum menuju hal-hal yang khusus

3). Strategi campuran adalah gabungan dari strategi indukatif dan dedukatif. Adapula strategi regresif yaitu strategi pembelajaran yang memakai titik tolak jaman sekarang untuk kemudian menelusuri balik (kebelakang) ke masa lampau yang merupakan latar belakang dari perkembangan kontemporer tersebut.

Menurut Slameto strategi pembelajaran mencakup 8 unsur perencanaan tentang:

1. Komponen sistem yaitu guru/dosen, siswa/mahasiswa baikdalam ikatan kelas, kelompok maupun perorangan yang akan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar telah disiapkan,

2. Jadwal pelaksanaan , format dan lama kegiatan telah disiapkan,

3. Tugas-tugas belajar yang akan dipelajari dan yang telah

4. Materi/bahan belajar, alat pelajarandan alat bantu mengajar yang disiapkan dan diatur,

5. Masukan dan karakteristik siwa yang telah di identifikasikan

6. Bahan pengait yang telah direncanakan,

7. Metode dan teknik penyajian telah dipilih, misalnya ceramah, diskusi dan lain sebagainya, dan

8. Media yang akan digunakan. (Slameto, 1991: 91-92).

Menurut Dick dan Carey terdapat 5 komponen umum dalam strategi pembelajaran yaitu:

  1. kegiatan pra-instruksional (meliputi motivasi, tujuan, tingkah laku);
  2. penyajian informasi (deskripsi pembelajaran, informasi, contoh);
  3. peran serta pembelajaran (latihan dan umpan balik);
  4. tes (baik tes awal maupun di akhir pembelajaran);
  5. kegiatan tindak lanjut (pengayaan, pendalaman, dan lainnya).

 

Adapun Prinsip-Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran yaitu Setiap strategi pembelajaran memiliki kekhasan dan keunikan sendiri-sendiri. Tidak ada strategi pembelajaran tertentu yang lebih baik dari strategi pembelajaran yang lain. Untuk itu, pendidik harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Menurut Sanjaya ( 2006: 129-131), ada empat prinsip umum yang harus diperhatikan pendidik dalam penggunaan strategi pembelajaran, yaitu: 1. Berorientasi pada tujuan. Dalam sistem pembelajaran, tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas pendidik dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran; 2. Aktivitas. Belajar bukan hanya menghafal sejumlah fakta atau informasi, tapi juga berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta didik, baik aktivitas fisik, maupun aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental; 3. Individualitas. Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun pendidik mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik. Pendidik yang berhasil adalah apabila ia menangani 40 orang peserta didik seluruhnya berhasil mencapai tujuan; dan sebaliknya dikatakan pendidik yang tidak berhasil manakala dia menangani 40 orang peserta didik 35 tidak berhasil mencapai tujuan pembelajaran; 4. Integritas. Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta didik. Dengan demikian, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan aspek psikomotor. Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh kepribadian peserta didik yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terintegrasi.

Jadi, Kesimpulannya adalah Strategi dalam pembelajaran ini sangat penting, dengan adanya beberapa aspek yang mendominan pada strategi adalah sebuah bentuk proses pembelajaran yang ingin dicapai. Dengan itu, Dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran, setiap guru dituntut untuk memahami benar strategi pembelajaran yang akan diterapkannya. Sehubungan dengan hal tersebut, seorang guru perlu memikirkan strategi pembelajaran yang akan digunakannya. Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat berdampak pada tingkat penguasaan atau prestasi belajar siswa. Dengan itu, sudah sepatutnya pendidik mengetahui karakteristik daripada anak didik yang akan di ajarnya. Karna agar mudah dipahami dan di terima oleh peserta didik materi yang di sampaikan si pendidik.

Kamis, 21 April 2022

LAPORAN BACAAN Kultur sekolah

 

Roza Wulandari

12001089

4F PAI


KULTUR SEKOLAH

Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan

miliknya dengan belajar. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku,

sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi

kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi

tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).

Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya,

serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya

tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena

lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama. Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah.

Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah. Kondisi ini adalah normal sebagaimana dijelaskan oleh Bare (Siti Irene Astuti D, 2009 : 119-120) yangmenyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah meliputi: “a unique mixing of ethnicity, values, experience, skills, and asporation: special rituals and ceremonies: unique history of achievement and tradition: unique socio-economic and geographic location”. Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan

karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74).

Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya

kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon

perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah. Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang

unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya

bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat

untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai (Ariefa Efianingrum, 2007: 51). 

 

Istilah kultur dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Deal dan Kent mendefinisikan “kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat”. Menurut definisi ini, suatu sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai disepakati secara luas di sekolah dan sejumlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilai-nilai tertentu. Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani. Sehingga kultur sekolah ini sangat berperan penting dan berkaitan satu sama lain demi mencapai tujuan yang akan di peroleh.

 

A. Tujuan Kultur Sekolah

1. Untuk membina mental dan moral.

2. Untuk penuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan. 3. Untuk menciptakan sekolah yang ideal. (Reny Widiasari, 2014)

 

B. Karakteristik Kultus Sekolah

1. Inisiatif individual.

2. Toleransi terhadap tindakan beresiko

3. Arah.

4. Integrasi.

5. Dukungan dari manajemen

6. Kontrol.

7. Identitas,

8. Sistem imbalan.

9. Toleransi terhadap konflik dan

10. Pola-pola komunikasi. (Reny Widiasari, 2014).

 

C. Fungsi dan Peran Kultur Sekolah 

    Berdasarkan pemaparan diatas mengenai kultur sekolah berikut ini dapat dikemukakan mengenai fungsi dan peran kultur sekolah, sebagai berikut: 

 

1.  Sebagai ciri khas yang dapat menjadi identitas serta citra suatu lembaga 

pendidikan. Dalam fungsi dan peran kultur sekolah ini dapat menjadi ciri tersendiri dari suatu sekolah yang menjdi ciri khas dan membedakan antara sekolah satu dengan yang lainnya sesuai dengan kultur yang berkembang didalam sekolah. 

2. Sebagai pedoman, kultur sekolah dapat menjadi pedoman atau pandangan bagi warga sekolah dalam batasan berprilaku yang sudah disepakati dan menggenerasi dari waktu ke waktu. 

3. Sebagai cara pemecahan masalah, kultur sekolah dapat menjadi sebuah keyakinan cara untuk memecahkan masalah, terbentuknya kultur sekolah tidak dapat menggunakan cara yang singkat. Untuk itu dalam hal ini kultur sekolah dapat manjadi keyakinan warga sekolah dalam memecahkan masalah menggunakan cara yang dipercayai dan dianggap benar untuk memecahkan suatu masalah. 

4. Sebagai strategi, kultur sekolah dapat dijadikan sebagai strategi untuk sekolah sebagai bahan agar dapat dibanggakan ataupun sebagai nilai popularitas sekolah. Strategi ini dapat difungsikan untuk membuat kebijakan sekolah dalam mengolah sumber daya yang terdapat di seuatu lembaga pendidikan.

5. Sebagai tata nilai, dengan adanya kultur sekolah dapat menggambarkan situasi sosial sekolah seperti perilaku. Dengan adanya tata nilai yang berkembang disekolah, sekolah dapat merealisasikan dalam kebijakan sekolah sebagai harapan bagi warga sekolah dalam mewujudkan tujuan dari adanya pendidikan yang dapat dimuat dalam visi serta misi sekolah. (Fify Rosalina, 2015: 13-14).

Rabu, 13 April 2022

Manajemen Sekolah

 

Nama : Roza Wulandari

Kelas : 4F PAI

 

LAPORAN BACAAN

Assalamualaikum wr.wb. disini saya akan melaporkan bacaan dari pemahaman saya tentang Manajemen Sekolah.

Manajemen sekolah adalah kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, termasuk tujuan nasional dan kelembagaan. Para ahli menunjukkan bahwa manajemen sekolah adalah bentuk pemberdayaan sekolah dan lingkungannya untuk menciptakan sekolah yang mandiri dan efektif. Manajemen sekolah memiliki aspek, yaitu manajemen eksternal dan manajemen internal. Pengelolaan internal sekolah meliputi usulan fisik perpustakaan, laboratorium, gedung, dll, sumber dana untuk pelaksanaan evaluasi pendidikan, dan hubungan antara guru dan siswa. Berbagai tahapan pengelolaan kurikulum sekolah dilakukan melalui empat tahapan yaitu perencanaan, pengorganisasian dan koordinasi pelaksanaan dan pengendalian. Peran manajemen dalam meningkatkan mutu dan prestasi sekolah adalah mengubah pola pikir dan arah kerja guru dengan mengelola manajemen peningkatan mutu, dan meningkatkan mutu guru melalui berbagai program peningkatan mutu. 

Secara umum, manajemen adalah proses yang dilakukan seseorang dalam mengelola kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Sebuah sistem atau manajemen harus diterapkan untuk mencapai apa yang ingin dicapai oleh individu atau kelompok dalam kolaborasi dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Prospek Kerja Mengingat jurusan sangat erat kaitannya dengan pendidikan, maka sangat memungkinkan juga jika Anda berniat menjadi guru setelah lulus dari jurusan tersebut, baik mengajar di sekolah, les privat, mengajar kelas, dll. Berikut adalah beberapa cara efektif lainnya untuk meningkatkan manajemen sekolah: Perbarui informasi. Informasi adalah hal terpenting di zaman modern ini, manajemen inventaris yang lebih baik, pemrosesan data mahasiswa baru, manajemen fakultas dan staf, pembukuan keuangan yang disederhanakan, kesimpulan. 

Tujuan utamanya adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Implementasi manajemen berbasis sekolah menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisiensikan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih manajemen berbasis sekolah memberi peluang pada kepala sekolah dan guru serta peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial, dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas dan profesionalisme yang dimiliki.

 

Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut:

1. kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua, dan guru

2  bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal

3. efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti,kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.

 

Efektivitas penerapan MBS berpijak pada 6 hal berikut ini:

 1.  Otonomi, fleksibilitas dan responsiviats

2. Direncanakan oleh kepala sekolah dan komunitas sekolah

3. Penerapan atau adaptasi aturan baru oleh kepala sekolah

4. Partisipasi dari lingkungan sekolah

5. Kolaborasi antar staff

6. Hubungan baik antara kepala sekolah dan guru

 

Karakteristik MBS :

Sekolah memiliki output yang diharapkan

Proses manajemen memiliki ciri ciri sebagai berikut:

1. Memiliki efektivitas KBM yang tinggi

2. Kepemimpinan sekolah yang kuat

3. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib

4. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif

5. Sekolah memiliki budaya mutu

6. Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis

7. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian)

8. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat

9. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi manajemen)

10. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan fisik)

11. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan

12. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan

13. Sekolah memiliki akuntabilitas dan komunikasi yang baik

14. Sekolah memiliki manajemen lingkungan hidup yang baik

15. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas

3. Input pendidikan:

- Memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas

- Sumberdaya tersedia dan siap

- Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi

- Memiliki harapan prestasi yang tinggi

- fokus pada manajemen dan pelanggan (khususnya siswa)

Sebagaimana dengan adanya prinsip-prinsip Manajemen Sekolah Teori yang digunakan Manajemen Sekolah untuk mengelola sekolah didasarkan pada empat prinsip, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif sumber daya manusia. Ada juga yang disebut dengan startegi dan menurut pendapat para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen strategi sekolah adalah pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan sekolah, dengan menggunakan ide-ide dan gagasan untuk merencanakan dan menjalankan strategi yang telah dicanangkan sekolah. 

Dasar manajemen strategi adalah menumbuhkan komitmen atau dukungan dari semua pihak (sumber daya manusia) mengenai visi, misi lembaga pendidikan, sasaran penyelenggaraan pendidikan, dan upaya-upaya pencapaiannya. Dengan manajemen strategi, organisasi bisa memiliki gambaran menyeluruh atas organisasinya. Gambaran menyeluruh ini bisa diibaratkan dengan kita yang menggunakan kamera. Bukan hanya diri kita yang terpantau, tetapi juga pihak-pihak disekitar kita, baik yang berhubungan langsung dan berpengaruh dengan kita maupun yang tidak langsung.

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik. Pertama, pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan demikian, peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini adalah, bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikan. Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: a. Mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah; b. Memperketat presensi; c. Penuntutan disiplin yang tinggi; d. Menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Kedua, pendekatan kualitatif (the qualitative approach). Pendekatan ini lebih memberikan perhatian pada kesejahteraan peserta didik. Pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah.

Rabu, 06 April 2022

LAPORAN BACAAN KURIKULUM

 Nama : Roza Wulandari 

Nim : 12001089 

Kelas : 4F PAI 

Mata Kuliah : Magang 1

Dosen Pengampu : Farninda Aditya,M.Pd



LAPORAN BACAAN 

KURIKULUM 

Kurikulum dapat diartikan seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Karena kurikulum dianggap sebagai pedoman sekolah atau madrasah, maka kurikulum dalam implementasinya memerlukan beberapa komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Adapun komponen kurikulum meliputi : tujuan, pendidik, peserta didik, isi, prosedur atau strategi, sarana dan prasarana pendidikan dan dukungan masyarakat. Sehingga disini kurikulum sangat mengendedikasi bahwa kurikulum ini tidak mencakup satu individu saja, namun mencakup beberapa individu sehingga kurikulum ini dapat berjalan sesuai prosedur yang sudah direncanakan. Tujuan kurikulum pada dasarnya merumuskan tujuan menentukan strategi menyeluruh tentang cara pelaksanaan tugas untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, serta menentukan hirarki rencana secara menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kegiatan yang diperlukan.

Kurikulum merupakan jabaran materi-materi yang disajikan dalam Pembelajaran, juga merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu Sistem pendidikan, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan Dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Sehingga kurikulum disini adalah sebagai patokan pembelajaran yang dilaksanakan dengan efisien.

Menurut M. Arifin, tujuan dan program pendidikan tertuang di dalam Kurikulum, bahkan program itulah yang mencerminkan arah dan tujuan yang Diinginkan dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan Faktor yang sangat penting dalam proses kependidikan dalam suatu lembaga Pendidikan. Segala hal yang harus diketahui atau diresapi serta dihayati oleh Subyek didik harus ditetapkan dalam kurikulum. Juga segala hal yang harus Diajarkan oleh pendidik kepada subyek didiknya harus dijabarkan di dalam Kurikulum.

Kerangka Kurikulum

1 . Kelompok Mata Pelajaran

Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional pendidikan pasal 5 menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan dan khusus pada jenjang pendidikan dasar terdiri dari atas:

A . Kelompok Mata Pelajaran agama dan akhlak mulia

B. Kelompok Mata Pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian

C. Kelompok Mata Pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi

D. Kelompok Mata Pelajaran estitika

E. Kelompok Mata Pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.

2. Prinsip pengembangan kurikulum

Selain tujuan dan cakupan kelompok mata pelajaran sebagai bagian dari kerangka dasar kurikulum, perlu dikemukakan prinsip pengembangan kurikulum.

Di bawah ini adalah sebagai berikut :

A. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.

B. Beragam dan terpadu

C.Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

D. Relevan dengan kebutuhan kehidupan

E. Menyeluruh dan berkesinambungan

F. Belajar sepanjang hayat

G. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang Dinamis. Hal ini berarti setiap kurikulum yang dikelola harus bisa dikembangkan Dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan Teknologi serta masyarakat yang sedang membangun. Kurikulum yang dikelola itu Harus sesuai dengan bakat, minat, kebutuhan subyek didik, lingkungan dan Memperlancar pelaksanaan untuk menggapai tujuan yang telah ditetapkan Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa prinsip dasar yang dominan Yang terdapat dalam setiap usaha pengelolaan dan pengembangan kurikulum :

(a) Relevansi, secara umum istilah relevansi pendidikan diartikan sebagai keserasian Pendidikan dengan tuntutan kehidupan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang Relevan bila hasrat yang diperoleh dan pendidikan tersebut berguna atau Fungsional bagi kehidupan. Prinsip relevansi ini harus mencakup tiga hal, yaitu Relevansi dengan lingkungan kehidupan sekarang dan yang akan datang, relevansi Dengan tuntutan dunia kerja dan relevansi dengan perkembangan ilmu Pengetahuan dan teknologi,

(b) Berkesinambungan, kurikulum disusun dan Dikelola secara berkesinambungan, artinya bagian-bagian, aspek-aspek materi dan Bahan kajian disusun secara berurutan tidak terlepas melainkan satu sama lain memiliki hubungan fungsional yang bermakna sesuai dengan jenjang pendidikan, Struktur dan satuan pendidikan serta tingkat perkembangan subyek didik. Dengan Prinsip ini tampak jelas alur keterkaitan dalam kurikulum tersebut hingga Mempermudah guru dan subyek didik dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini Kurikulum yang disusun dan dikelola itu harus mempertimbangkan dua hal yaitu, Bahan-bahan pelajaran yang lebih tinggi harus sudah diajarkan sebelumnya dan Bahan-bahan pelajaran yang telah diajarkan tidak pernah lagi diajarkan pada Tingkat yang lebih tinggi,

(c) Fleksibilitas, fleksibilitas maksudnya tidak kaku, Artinya ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan di dalam Bertindak. Dalam kurikulum fleksibilitas mencakup fleksibilitas subyek didik Dalam memilih program dan fleksibilitas guru dalam pengembangan program Pengajaran. Dari uraian ini maka prinsip fleksibilitas menuntut adanya keluwesan Dalam mengembangkan kurikulum tanpa mengorbankan tujuan yang hendak Dicapai,

(d) Efektivitas, efektivitas dalam suatu kegiatan berkenaan dengan sejauh Mana apa yang direncanakan dapat terlaksana. Dalam bidang pendidikan, Efektivitas ini dapat dilihat dari segi efektivitas guru mengajar dan subyek didik Belajar. Sedang dalam rangka pengelolaan kurikulum dan pengembangannya, Usaha untuk meningkatkan efektivitas kegiatan belajar subyek didik dilakukan Dengan memilih jenis-jenis metode dan alat yang dipandang paling ampuh dalam mencapai tujuan yang diinginkan

(e) Efisiensi, Efisiensi merupakan perbandingan

 antara hasil yang dicapai dengan pengeluaran berupa waktu, tenaga dan biaya yang diharapkan paling tidak menunjukkan hasil yang seimbang. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan kurikulum dalam proses belajar mengajar, maka proses belajar mengajar dikatakan efisien jika usaha, biaya dan waktu yang digunakan untuk menyelenggarakan program pembelajaran dapat terealisasi dengan hasil yang optimal.

 

 

 

BAHAN AJAR

  Nama : Roza Wulandari Nim : 12001089 Kelas : 4F PAI LAPORAN BACAAN MAGANG 1   BAHAN AJAR Pada pembahasan kali ini saya tentuny...